Iklan

Iklan

,

Iklan

REDYNEWS.COM Investigasi dan fakta

G30S/PKI : luka bangsa, pengkhianatan yang tak boleh di lupakan

Senin, 29 September 2025, 08:14 WIB Last Updated 2025-09-29T01:20:55Z


REDYNEWS.COM
, Penulis: Idham Rizal – PPWI Riau

Setiap tanggal 30 September, bangsa Indonesia kembali dipaksa membuka lembar kelam dalam perjalanan sejarahnya. Malam yang mencekam itu, pada tahun 1965, menjadi saksi bagaimana sebuah ideologi yang mengatasnamakan perjuangan kaum proletar justru menodai harkat kemanusiaan dengan kekejaman yang sulit dilupakan. Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia—atau yang kita kenal dengan G30S/PKI—bukan hanya sebatas pemberontakan politik, melainkan pengkhianatan terhadap Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan juga darah para pahlawan bangsa yang ditumpahkan secara biadab.


PKI kala itu, di bawah pimpinan D.N. Aidit, telah lama memupuk ambisi untuk merebut kekuasaan negara. Dengan kekuatan massa, sayap politik, dan infiltrasi ke berbagai sektor kehidupan, mereka menyiapkan langkah untuk menggulingkan tatanan bangsa. Puncak dari ambisi keji itu meledak di malam 30 September 1965, ketika pasukan Cakrabirawa yang sudah terkontaminasi ideologi komunis bergerak menculik sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat.


Target mereka jelas: mematahkan kepemimpinan militer yang dianggap sebagai penghalang besar bagi ambisi PKI. Enam jenderal dan satu perwira pertama Angkatan Darat diculik, disiksa, dan dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi. Mereka adalah:


1. Letnan Jenderal Ahmad Yani

2. Mayor Jenderal R. Suprapto

3. Mayor Jenderal M.T. Haryono

4. Mayor Jenderal Siswondo Parman

5. Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan

6. Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

7. Lettu Pierre Andreas Tendean

Para pahlawan revolusi ini bukanlah sekadar korban, melainkan martir yang mempertaruhkan nyawa demi tegaknya kedaulatan negara. Tubuh mereka disiksa, sebagian ditembak, ditikam bayonet, bahkan diperlakukan dengan cara keji sebelum akhirnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Sejarah mencatat betapa ngeri perbuatan itu. Ideologi yang mengaku membela rakyat, justru menampilkan wajah aslinya: kejam, tidak berperikemanusiaan, dan anti-Pancasila.


Kita harus menyebut PKI dengan apa adanya: pengkhianat bangsa. Mereka berusaha menghapus identitas Indonesia yang berlandaskan ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan, untuk diganti dengan ideologi materialisme ateis yang menolak Tuhan dan mengagungkan kekuasaan semata. Pemberontakan G30S/PKI adalah bukti nyata bahwa komunisme tidak pernah bisa berdamai dengan Pancasila.


Namun, di balik tragedi itu, bangsa Indonesia tidak tunduk. Justru dari darah para jenderal lahir semangat baru untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan. Rakyat, bersama Tentara Nasional Indonesia, bersatu menumpas PKI. Dalam hitungan hari, gerakan komunis itu hancur, para pemimpinnya ditangkap atau dihukum, dan Indonesia kembali menyatakan diri tegak berdiri di bawah panji merah putih dan dasar Pancasila.


Hari ini, peringatan G30S/PKI bukan sekadar seremonial atau rutinitas sejarah. Ini adalah alarm kebangsaan. Kita diingatkan bahwa bahaya laten komunisme tidak pernah benar-benar padam. Ia bisa berganti wajah, menyusup dalam wacana, menyamar dalam jargon-jargon kesetaraan, bahkan bersembunyi di balik kebebasan demokrasi. Oleh karena itu, bangsa yang besar tidak boleh lengah. Mengingat sejarah bukan berarti mengungkit luka lama, tetapi memastikan luka itu tidak terulang kembali.


Para jenderal yang gugur telah membayar mahal harga sebuah kesetiaan pada bangsa. Kita yang hidup hari ini wajib meneruskan perjuangan mereka dengan menjaga persatuan, memperkuat iman, dan membentengi negeri dari segala bentuk ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Generasi muda khususnya, tidak boleh abai. Jangan biarkan sejarah direduksi, diputarbalikkan, atau dikaburkan oleh mereka yang mencoba mencuci tangan PKI dari dosa-dosa sejarahnya. Fakta tetap fakta: PKI telah melakukan pemberontakan, pembunuhan, dan pengkhianatan.


Lubang Buaya akan selalu menjadi monumen bisu yang berteriak dalam hati setiap anak bangsa: bahwa kemerdekaan ini dibayar dengan darah dan pengorbanan. Bahwa Pancasila bukan sekadar dokumen, melainkan benteng terakhir yang menyelamatkan bangsa dari kehancuran ideologi. Dan bahwa musuh terbesar bangsa bukan hanya penjajah dari luar, tetapi juga pengkhianat dari dalam.


Di hadapan sejarah, kita tidak boleh ragu untuk menyebutkan: G30S/PKI adalah noda hitam. PKI adalah pengkhianat bangsa. Dan para jenderal yang gugur adalah pahlawan sejati.


Maka, setiap 30 September, mari kita tundukkan kepala sejenak, mengenang jasa para pahlawan revolusi. Kita doakan arwah mereka ditempatkan di sisi terbaik Tuhan Yang Maha Esa. Kita teguhkan janji bahwa pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. Dan kita pastikan, dengan segala kekuatan yang kita miliki, bahwa bangsa Indonesia akan terus berdiri tegak, berdaulat, dan tidak akan pernah tunduk pada ideologi komunis maupun ideologi asing lainnya.


Inilah cara kita menghormati para pahlawan revolusi. Inilah cara kita menjaga Indonesia. Dan inilah cara kita memastikan bahwa pengkhianatan tidak akan pernah lagi mendapat tempat di bumi Pancasila.


Idham Rizal

PPWI Riau

Iklan

Tren untuk Anda