REDYNEWS.COM, Kateman – Sei Guntung | 30 November 2025 - Layanan penyeberangan tradisional menggunakan pocai dari Pelabuhan Biru H. Malik menuju Desa Air Tawar yang sudah beroperasi hampir sebelas bulan kini menghadapi hambatan serius. Pocai yang selama ini mengangkut sepeda motor dan pengendaranya dari Guntung ke Air Tawar tidak diizinkan mengangkut penumpang saat perjalanan pulang, sehingga para pengemudi harus kembali dalam keadaan kosong dan merugi.
Masalah ini muncul karena belum adanya kesepakatan resmi dari pihak pelabuhan di Desa Air Tawar, yang merasa keberadaan pocai merugikan angkutan tradisional lain seperti pompong yang sejak dulu melayani rute tersebut. Sejak pocai beroperasi, jumlah penumpang pompong disebut menurun drastis.
Di sisi lain, masyarakat Guntung justru sangat terbantu dengan kehadiran transportasi pocai. Akses cepat menuju lokasi kerja, terutama bagi para pekerja di PT. Pulau Sambu Group dan STI, membuat moda ini menjadi pilihan utama. Warga menilai keberadaan pocai bukan hanya memudahkan mobilitas, tetapi juga memangkas biaya serta waktu perjalanan.
Meski permasalahan ini pernah dibahas oleh Kepala Desa Air Tawar, fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyelesaian masih jalan di tempat. Tidak adanya regulasi operasional yang disepakati bersama membuat konflik terus berlanjut.
Warga Guntung pun menyampaikan keluhan dan mendesak pemerintah Kecamatan Kateman serta Kepala Desa Air Tawar untuk turun langsung mencari solusi. Mereka meminta semua pihak duduk bersama, menggelar pertemuan terbuka, dan menuntaskan persoalan yang telah berlarut hampir setahun ini.
“Kami hanya ingin akses yang adil. Pocai sangat membantu masyarakat bekerja setiap hari. Pemerintah harus dengar suara kami dan jangan biarkan masalah ini berlarut,” ujar salah satu warga yang rutin menggunakan jasa penyeberangan tersebut.
Masyarakat menilai bahwa keberlangsungan transportasi air ini sangat penting karena berhubungan langsung dengan aktivitas ekonomi, akses kerja, dan mobilitas harian. Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang tidak merugikan satu pihak pun, baik pengemudi pocai, pengusaha pompong, maupun masyarakat pengguna layanan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi dari pihak pemerintah setempat. Warga menunggu langkah cepat dan tegas agar penyeberangan dapat kembali berjalan normal tanpa hambatan.
( IR )
